Saat Keterbatasan menjadi Bahan Bakar Kesungguhan Belajar

kesungguhan_belajar

Sahabat Rijalul Qur’an yang semoga selalu disayang Allah. Di suatu majlis saya berkesempatan ikut ngaji bersama Ust. Abdul Somad Hafidzahullah. Pada waktu itu beliau menyampaikan ada seorang mahasiswa bertanya kepadanya,”Ustadz, bagaimana caranya agar semangat belajar ?”. Beliau menjawab,”Sekarang telepon orang tuamu, lalu sampaikan kepada mereka. Mulai detik ini jangan kirim uang bulanan kepada saya lagi.” Maa Syaa Allah mendengar jawaban beliau diri ini tersadarkan bahwa seringkali semangat belajar menurun karena semua fasilitas terpenuhi sehingga lupa bagaimana cara berjuang.

Yuk, kita pelajari lagi bagaimana sih para ulama terdahulu berjuang mencari ilmunya ?

Bagaimana mereka mengorbankan waktu, tenaga, dan hartanya demi meraih ilmu ?

Abu Hatim ar-Razi Rahimahullah adalah seorang pecinta Ilmu. Suatu kali, ia bertekad mencari ilmu selama satu tahun di kota Bashrah. Bekal yang dimilikinya hanya sedikit. Karena itu, ia sangat berhemat. Setiap hari, Abu Hatim bersama sahabatnya mendatangi rumah syekh untuk menuntut ilmu.

Saat perbekalannya habis, Abu Hatim menjual bajunya satu persatu. Ia rela melakukannya asalkan dapat bertahan hidup di kota Bashrah. Saat tidak ada lagi baju yang bisa dijual, Abu Hatim hanya bisa meminum air saja sepulang dari mencari ilmu. Hal itu dijalaninya selama beberapa hari hingga badannya menjadi lemah.

Suatu pagi, salah seorang sahabat Abu Hatim mendatanginya. Ia mengajak Abu Hatim mengunjungi seorang syekh di suatu tempat.

“Maafkan aku. Aku merasa sangat lemah. Aku tidak bisa ikut denganmu,” kata Abu Hatim.
“Ada apakah denganmu ?” tanya sahabat Abu Hatim.

Akhirnya, Abu Hatim mengatakan kondisinya. Sahabat Abu Hatim pun merasa iba. Ia memberikan uang agar Abu Hatim bisa makan dan membayar tempat tinggal. Begitulah kegigihan Abu Hatim Rahimahullah menuntut Ilmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat derajatnya dengan menjadi seorang ahli hadis yang menjadi rujukan kaum muslimin.

Maa Syaa Allah kan, terlebih jika kita ingat-ingat sabda Nabi Muhammad tentang keutamaan mencari ilmu. Pasti bikin mood booster mencari ilmu naik nih…

عن أبي الدرداء رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «مَنْ سَلَكَ طَريقا يَبْتَغي فيه عِلْما سَهَّل الله له طريقا إلى الجنة، وإنَّ الملائكةَ لَتَضَعُ أجْنِحَتها لطالب العلم رضًا بما يَصنَع، وإنَ العالم لَيَسْتَغْفِرُ له مَنْ في السماوات ومَنْ في الأرض حتى الحيتَانُ في الماء، وفضْلُ العالم على العَابِدِ كَفَضْلِ القمر على سائِرِ الكواكب

Dari Abu Dardā` Raḍiyallahu ‘anhu dari Nabi Sallallāhu ‘alahi wa sallam, beliau bersabda, “Siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga. Dan sungguh para malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu karena senang dengan perbuatannya. Sesungguhnya orang berilmu itu akan dimintakan ampunan oleh (makhluk) yang berada di langit dan di bumi hingga ikan di air. Keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah laksana keutamaan rembulan atas seluruh bintang…” (HR. Ibnu Mājah).

Sahabat, tidak semua kemudahan baik bagi penuntut ilmu. Terlalu nyaman bisa membuat lalai akan makna perjuangan. Adakalanya, kesungguhan dalam keterbatasan melahirkan keberkahan yang tidak dimiliki kemudahan.

——————————–

  • Penulis: Ustadz Slamet, S.Pd. (Kepala Kuttab Rijalul Qur’an)
  • Referensi : Astutiningrum, Ririn. Adab Sebelum Ilmu Ta’limul Muta’allim For Kids. Solo : Buku Anak Zain.

*****

baca artikel lainnya tentang https://rijalulquran.or.id/cara-mengolah-daging-qurban-agar-empuk-dan-tips-menyimpannya-agar-tahan-lama/

© Copyright 2024, All Rights Reserved