Malam 1 Suro: Sejarah, Pandangan Islam, dan Mengapa Masyarakat Menyakralkannya

malam_satu_suro

Malam 1 Suro selalu menjadi topik menarik yang penuh nuansa. Sebagian orang memandangnya sebagai malam yang angker dan penuh pantangan, sementara sebagian lain memahaminya sebagai momen istimewa untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Lalu, apa sebenarnya fakta sejarahnya? Bagaimana pandangan Islam terhadap malam ini? Dan mengapa tradisi kesakralannya begitu kuat melekat di masyarakat?

Apa Itu Malam 1 Suro?

Secara sederhana, Malam 1 Suro adalah malam pergantian tahun dalam kalender Jawa yang dibuat oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo abad ke-17. Penanggalan ini merupakan hasil sinkronisasi antara sistem kalender Saka dengan kalender Hijriah, sehingga tanggal 1 Suro selalu bertepatan atau berdekatan dengan 1 Muharram, bulan pertama dalam kalender Islam .

Kata “Suro” sendiri berasal dari bahasa Arab Asyura yang berarti kesepuluh, merujuk pada tanggal 10 Muharram yang memiliki nilai sejarah tinggi. Bagi masyarakat Jawa, malam ini dianggap sebagai waktu transisi yang memisahkan tahun yang berlalu dengan lembaran kehidupan yang baru.

 Sejarah Bulan Muharram dalam Perspektif Islam

Dalam ajaran Islam, Muharram menempati kedudukan yang sangat mulia. Nama Muharram berarti “yang dihormati dan diharamkan” — karena pada bulan ini Allah SWT mengharamkan pertumpahan darah dan segala bentuk pelanggaran lebih keras dibanding bulan-bulan lain .

Sejarah Penetapan Muharram

– Merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah sejak zaman Nabi Ibrahim AS, bersama Rajab, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah
– Dijadikan awal penanggalan Islam setelah peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi
– Menjadi penanda dimulainya sistem penanggalan Hijriah yang digunakan umat Islam hingga kini

Keutamaan Muharram dalam Islam

Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram” (HR. Muslim)

Selain itu, bulan ini menjadi saksi berbagai peristiwa besar:

– Diterimanya taubat Nabi Adam AS
– Keselamatan Nabi Nuh AS dan pengikutnya dari banjir besar
– Diberikannya kemenangan kepada Nabi Musa AS atas Fir’aun

Pandangan Islam Tentang Malam 1 Suro

Karena bertepatan dengan 1 Muharram, malam 1 Suro memiliki kedudukan yang jelas dalam Islam: ia adalah malam yang mulia, namun tidak memiliki sifat gaib atau pantangan khusus yang wajib dipatuhi .

Hal yang Ditegaskan Islam:

✅ Dianjurkan: Mengisi malam ini dengan ibadah, refleksi diri, membaca doa akhir dan awal tahun, memperbanyak zikir, serta merencanakan perbaikan hidup
✅ Dianjurkan: Berpuasa pada tanggal 9, 10, atau 11 Muharram — yang dikenal sebagai puasa Asyura — sebagai bentuk syukur dan penghapus dosa setahun yang lalu
❌ Tidak ada dasar: Larangan keluar rumah, menikah, memotong kuku, atau melakukan pekerjaan sehari-hari. Hal ini termasuk tathayyur atau berburuk sangka kepada Allah yang dilarang dalam Islam
❌ Dihindari: Keyakinan bahwa malam ini mempertemukan alam gaib dan manusia, atau memohon pertolongan kepada selain Allah

Mengapa Masyarakat Menyakralkan Malam 1 Suro?

Kesakralan malam 1 Suro tumbuh dari perpaduan nilai budaya, filosofi, dan proses akulturasi yang berlangsung ratusan tahun. Berikut alasan utamanya:

1. Proses Akulturasi Budaya dan Agama

Ketika Islam masuk ke Jawa, para wali dan raja tidak menghapus tradisi lama secara total, melainkan mengisinya dengan nilai-nilai kebaikan. Sultan Agung menetapkan 1 Suro bertepatan dengan 1 Muharram agar masyarakat Jawa lebih mudah memahami dan mengamalkan ajaran Islam.

2. Filosofi “Eling lan Waspada”

Masyarakat Jawa memaknai malam ini sebagai waktu untuk mawas diri — mengenang perbuatan selama setahun dan bertekad menjadi lebih baik. Pantangan yang berkembang sebenarnya bertujuan mengajarkan disiplin: tidak berkata kasar, menjaga sikap, dan menghindari hal-hal buruk .

3. Tradisi Turun-Temurun

Ritual seperti Tirakatan, Mubeng Beteng, Kirab Pusaka, atau Tapa Bisu menjadi identitas budaya yang diwariskan. Meskipun ada unsur mistis yang berkembang, intinya tetap mengandung pesan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

4. Harapan Memulai Lembaran Baru

Secara psikologis, manusia selalu membutuhkan momen khusus untuk memulai perubahan. Malam 1 Suro menjadi simbol harapan agar tahun yang akan datang membawa berkah, keselamatan, dan kebaikan bagi seluruh keluarga .

Menyikapi Malam 1 Suro dengan Bijak

Malam 1 Suro mengajarkan kita keseimbangan antara menghormati budaya dan memegang teguh ajaran agama:

✅ Ambil nilai baiknya: Jadikan sebagai waktu introspeksi, memperbanyak ibadah, mempererat silaturahmi, dan berdoa memohon kebaikan
✅ Lestarikan budaya tanpa syirik: Ikuti tradisi seperti pengajian, doa bersama, atau kegiatan sosial — selama tidak mengandung keyakinan yang bertentangan dengan tauhid
❌ Tinggalkan mitos yang tidak jelas dasar: Jangan percaya bahwa melanggar pantangan akan mendatangkan kesialan, karena semua ketentuan nasib ada di tangan Allah semata

Kesimpulan

Malam 1 Suro bukanlah malam yang angker atau penuh kutukan, melainkan momen istimewa yang memadukan sejarah Islam dan kekayaan budaya Nusantara. Dalam pandangan Islam, ia adalah awal bulan Muharram yang mulia, penuh keutamaan untuk beribadah dan memperbaiki diri. Sedangkan kesakralan yang tumbuh di masyarakat lahir dari proses panjang akulturasi dan nilai filosofis yang ingin mengajarkan manusia untuk selalu ingat dan waspada.

Apapun keyakinannya, mari jadikan malam ini sebagai titik balik untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih dekat dengan Allah, dan lebih menghargai warisan budaya yang mempersatukan kita semua.

*****

berikut agenda malam 1 suro di pesantren Tahfidz Rijalul Qur’an 

malam_satu_suro

© Copyright 2024, All Rights Reserved