Kartini dan Jaringan Santri: Membongkar Mitos “Eropasentris” di Balik Emansipasi Perempuan Jawa
- Home
- Uncategorized
- Kartini dan Jaringan Santri: Membongkar Mitos “Eropasentris” di Balik Emansipasi Perempuan Jawa
Selama berdekade-dekade, buku sejarah membentuk persepsi kita bahwa Raden Ajeng Kartini adalah “produk” murni dari pemikiran Barat. Narasi ini terus mengagungkan surat-suratnya kepada Stella Zeehandelaar atau Jacques Abendanon sebagai satu-satunya motor penggerak emansipasinya. Namun, jika kita menyingkap tabir sejarah lebih dalam, kita akan menemukan sebuah kenyataan yang sengaja dipinggirkan: Kartini merupakan bagian dari jaringan intelektual santri yang memiliki akar spiritualitas sangat kuat. Ia tidak hanya menatap ke arah Eropa untuk mencari kebebasan, tetapi juga menggali kedalaman nilai-nilai Islam melalui para ulama besar di zamannya.
Meruntuhkan Tembok “Eropasentris”
Narasi sejarah kolonial sering kali “menculik” sosok Kartini untuk melegitimasi bahwa kemajuan hanya bisa dicapai dengan meniru peradaban Belanda. Padahal, Kartini secara aktif melakukan dialog batin yang kritis terhadap budaya Barat tersebut. Ia memang mengagumi kemajuan ilmu pengetahuan di Eropa, tetapi di sisi lain, ia meratapi kekosongan spiritual dan dekadensi moral yang ia temukan dalam budaya penjajah.
Kartini menyadari bahwa perempuan Jawa membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar kemampuan berbahasa Belanda. Ia mencari fondasi yang bisa mengangkat martabat perempuan tanpa harus kehilangan identitas sebagai bangsa yang religius. Di sinilah peran jaringan santri mulai masuk ke dalam radar pemikirannya. Ia mulai melihat bahwa agama Islam, jika dipahami dengan benar tanpa distorsi adat feodal, justru memberikan ruang yang luas bagi perempuan untuk menjadi pemimpin dan pendidik.
Hubungan Intelektual dengan Kiai Sholeh Darat
Tokoh kunci yang jarang mendapatkan sorotan dalam kurikulum sekolah adalah ‘Kiai Sholeh Darat’. Ulama kharismatik ini merupakan guru dari tokoh-tokoh besar seperti KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU). Kartini secara aktif meminta Kiai Sholeh Darat untuk menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa agar maknanya bisa ia serap secara langsung tanpa perantara budaya yang kaku.
Kalimat aktif Kartini dalam mendorong lahirnya tafsir *Faidhur-Rahman* menunjukkan bahwa ia adalah seorang inisiator literasi agama. Ia ingin mendobrak monopoli kebenaran yang selama ini dipegang oleh kaum laki-laki yang sering kali menafsirkan agama demi kepentingan patriarki. Melalui hubungan guru-murid inilah, Kartini menemukan bahwa Islam memerintahkan setiap Muslim, laki-laki maupun perempuan, untuk menuntut ilmu seluas-luasnya.
Emansipasi sebagai Perintah Agama
Jaringan santri memberikan Kartini sebuah perspektif baru: bahwa menuntut hak bagi perempuan adalah sebuah bentuk ibadah. Ia mulai memahami konsep bahwa seorang ibu adalah *madrasatul ula* (sekolah pertama). Dengan logika ini, Kartini meluncurkan kampanye pendidikan bagi perempuan bukan karena ingin meniru gaya hidup perempuan Belanda, melainkan karena ia ingin membangun peradaban Islam yang kuat di tanah Jawa.
Ia berargumen dengan sangat cerdas dalam surat-suratnya bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki ibu-ibu yang terdidik. Kartini melihat pendidikan perempuan sebagai cara untuk memperbaiki akhlak masyarakat. Dengan demikian, gerakan emansipasinya memiliki akar religius yang sangat kuat, sebuah fakta yang sering kali ditutup-tupi karena dianggap tidak selaras dengan agenda sekularisasi sejarah pada masa lalu.
Menghidupkan Kembali Sejarah yang “Hilang”
Mengapa informasi mengenai hubungan Kartini dengan jaringan santri ini jarang terungkap? Penulisan sejarah pada masa awal kemerdekaan sering kali lebih menekankan pada aspek nasionalisme sekuler dan pengaruh modernitas Barat. Mengaitkan Kartini dengan dunia pesantren dan ulama dianggap akan mempersempit cakupan ketokohannya. Padahal, sebaliknya, fakta ini justru menunjukkan betapa luas dan inklusifnya pemikiran Kartini.
Ia mampu menjembatani dua dunia: kemajuan metodologi Barat dan kedalaman etika Islam. Kartini membuktikan bahwa menjadi modern tidak berarti harus meninggalkan iman, dan menjadi religius tidak berarti harus menjadi jumud atau tertinggal. Ia adalah jembatan intelektual yang menghubungkan tradisi pesantren dengan tuntutan zaman modern.
Kesimpulan
Membongkar mitos “Eropasentris” dalam sosok Kartini adalah upaya kita untuk mengembalikan identitas aslinya sebagai Muslimah yang merdeka. Ia tidak hanya terinspirasi oleh buku-buku dari luar negeri, tetapi juga oleh cahaya ilahi yang ia pelajari lewat jaringan santri. Hari Kartini seharusnya menjadi momentum bagi kita untuk memperkuat literasi dan pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai spiritualitas. Mari kita lihat Kartini sebagai pejuang yang berani berdiri di persimpangan zaman, membawa obor pencerahan yang ia nyalakan dari kedalaman iman dan kecintaan pada ilmu pengetahuan.
baca artikel lainnya tentang https://rijalulquran.or.id/surat-surat-yang-terlupakan-gugatan-kartini-terhadap-poligami-kolonial-dan-kerinduan-pada-syariat-yang-adil/
© Copyright 2024, All Rights Reserved