Biografi Salah Atiyah dari Mesir: Kisah Saham Allah hingga 100%

Biografi_salah_Atiyah
 

Salah Atiyah dari Mesir adalah sosok pengusaha sekaligus pejuang sosial yang membuktikan bahwa keberhasilan bisnis tidak harus berhenti pada kekayaan pribadi. Melalui gagasan sederhana tentang menyisihkan keuntungan usaha untuk amal, ia ikut menggerakkan perubahan besar di desanya, Tafahna Al-Ashraf, mulai dari pendidikan Islam, layanan kesehatan, hingga pembangunan infrastruktur.

Kisah hidupnya mengajarkan satu hal penting: ketika keuntungan usaha tidak hanya dinikmati pemiliknya, tetapi juga digunakan untuk mengangkat kehidupan masyarakat, bisnis dapat menjadi jalan pengabdian yang manfaatnya melampaui generasi.

Lantas, bagaimana perjalanan Salah Atiyah membangun gerakan kebaikan dari sebuah usaha kecil hingga berkembang menjadi gerakan sosial yang luas?

1. Siapa Salah Atiyah? Biografi Singkat Tokoh Filantropi Mesir

Salah Sabir Atiyah (Salah Sabr Atiya) lahir pada 18 Maret 1946 di Desa Tafahna Al-Ashraf, wilayah Mit Ghamr, Provinsi Dakahlia, Mesir. Ia menempuh pendidikan di bidang pertanian dan kemudian mengembangkan usaha di sektor peternakan unggas serta bisnis terkait.

Ia tumbuh dengan menyaksikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat desanya, terutama kemiskinan, keterbatasan pendidikan, dan akses kesehatan. Kondisi tersebut mendorongnya untuk memikirkan cara yang lebih mendasar dalam membantu masyarakat.

Bagi Salah Atiyah, memberikan bantuan kepada orang miskin memang penting. Namun, ia melihat bahwa masyarakat juga membutuhkan pendidikan, pekerjaan, fasilitas kesehatan, dan kesempatan untuk memperbaiki kehidupan mereka sendiri.

Karena itu, ia tidak hanya memikirkan cara memperoleh keuntungan dari usaha. Ia juga memikirkan bagaimana keuntungan tersebut dapat menjadi sumber perubahan sosial yang berkelanjutan.

Pemikiran inilah yang kemudian menjadi dasar gerakan sosialnya di Tafahna Al-Ashraf. Sumber: Khotwa Center for Documentation and Studies.

2. Berawal dari Usaha Kecil, Muncul Gagasan “Saham Allah”

Pada 1974, Salah Atiyah bersama delapan rekannya merintis usaha peternakan ayam. Mereka ingin membangun usaha produktif sebagai bekal kehidupan setelah menyelesaikan tugas militer.

Modal yang mereka butuhkan sekitar 2.000 pound Mesir. Bagi sembilan anak muda yang belum mapan secara ekonomi, jumlah tersebut bukan perkara mudah.

Namun, di tengah upaya membangun bisnis, Salah Atiyah mengajukan gagasan yang tidak biasa. Ia mengusulkan agar sebagian keuntungan usaha dialokasikan untuk membantu masyarakat dan membiayai kegiatan amal.

Mereka kemudian menyepakati alokasi awal sebesar 10% dari keuntungan untuk kepentingan sosial dan amal, yang dikenal dalam kisah mereka sebagai Sahm Allah atau “saham untuk Allah”.

Dalam sejumlah kisah yang beredar, gagasan tersebut dikaitkan dengan pencantuman bagian amal itu dalam kesepakatan pendirian usaha. Akan tetapi, yang paling penting dari cerita ini bukanlah status hukum Allah sebagai pemegang saham secara harfiah, melainkan komitmen para pengusaha untuk menjadikan sebagian hasil usaha sebagai sumber kebaikan.

Mereka tidak menunggu menjadi kaya untuk berbagi. Sejak awal, mereka justru memasukkan kepedulian sosial ke dalam perencanaan bisnis.

Inilah pelajaran penting dari biografi Salah Atiyah: jangan menunggu memiliki banyak harta untuk mulai memberi manfaat kepada orang lain.

3. Dari 10% hingga 100% Keuntungan untuk Amal

Menurut catatan mengenai perjalanan Salah Atiyah, bagian keuntungan yang dialokasikan untuk kegiatan amal kemudian meningkat secara bertahap.

Awalnya, mereka menetapkan 10%. Setelah usaha berkembang, mereka meningkatkan alokasi tersebut menjadi 20%. Kisah perjalanan mereka kemudian menceritakan peningkatan bagian amal hingga mencapai 100% pada perkembangan usaha selanjutnya.

Angka 100% ini perlu dipahami sesuai konteks kisah yang diberitakan, yakni alokasi keuntungan usaha tertentu untuk kegiatan sosial, bukan berarti seluruh omzet perusahaan otomatis disumbangkan.

Keputusan tersebut memperlihatkan perubahan cara pandang yang mendasar. Keuntungan bukan lagi semata-mata ukuran keberhasilan pemilik usaha, tetapi juga sarana untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Ketika usaha menghasilkan keuntungan, mereka menggunakannya untuk memperluas kegiatan produktif sekaligus mendukung berbagai program sosial. Dengan demikian, kegiatan amal tidak hanya bergantung pada sumbangan sesaat, melainkan terhubung dengan aktivitas ekonomi yang menghasilkan pendapatan.

Model seperti ini menunjukkan bahwa bisnis dan kepedulian sosial dapat berjalan beriringan. Usaha tetap membutuhkan perencanaan, pengelolaan, dan produktivitas, sedangkan keuntungan dapat diarahkan untuk membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik.

4. Membangun Pendidikan Islam hingga Hadirnya Kampus Al-Azhar

Salah satu warisan paling menonjol dari perjuangan Salah Atiyah adalah pengembangan pendidikan di Tafahna Al-Ashraf.

Ia memahami bahwa kemiskinan tidak cukup diatasi dengan membagikan uang atau bahan makanan. Masyarakat membutuhkan akses pendidikan agar anak-anak mereka memiliki kesempatan untuk membangun masa depan.

Bersama masyarakat dan para pendukungnya, ia ikut mendorong pembangunan lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi.

Program yang berkembang di desa tersebut mencakup sejumlah lembaga pendidikan Al-Azhar, termasuk jenjang pendidikan dasar, menengah, dan perguruan tinggi. Fasilitas pendidikan juga dilengkapi dengan asrama mahasiswa putra dan putri untuk membantu pelajar dari wilayah sekitar.

Di antara lembaga yang berkembang ialah fakultas Syariah dan Hukum, Perdagangan, Pendidikan, serta Studi Humaniora dan Arab yang terkait dengan Universitas Al-Azhar.

Kehadiran pendidikan tinggi di desa tersebut membawa perubahan besar. Anak-anak dari keluarga sederhana memperoleh kesempatan belajar lebih dekat dengan tempat tinggal mereka. Para mahasiswa dari daerah lain pun mendapatkan fasilitas untuk melanjutkan pendidikan.

Dengan demikian, perjuangan Salah Atiyah tidak hanya berkaitan dengan pembangunan gedung sekolah atau kampus. Ia ikut membuka jalan agar pendidikan menjadi sarana peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Pendidikan Islam dalam kisah ini juga tidak berdiri sendiri. Ia berjalan bersama pendidikan umum, kegiatan ekonomi, dan pembangunan fasilitas sosial.

5. Membangun Stasiun Kereta untuk Memudahkan Masyarakat

Perhatian Salah Atiyah terhadap masyarakat tidak berhenti pada pendidikan.

Pertumbuhan lembaga pendidikan di Tafahna Al-Ashraf menimbulkan kebutuhan baru, terutama transportasi bagi mahasiswa, dosen, dan warga dari wilayah sekitar.

Karena itu, pembangunan stasiun kereta menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan desa tersebut.

Menurut catatan Khotwa Center, Salah Atiyah mengupayakan agar kereta berhenti di desa itu, sementara masyarakat setempat turut menanggung biaya yang diperlukan untuk membangun stasiun.

Keberadaan stasiun membantu mempermudah mobilitas mahasiswa dan warga. Selain mendukung kegiatan pendidikan, transportasi yang lebih mudah juga membuka akses terhadap layanan kesehatan, kegiatan ekonomi, serta hubungan dengan wilayah lain.

Kisah ini memperlihatkan cara berpikir yang menarik: membangun sekolah saja tidak selalu cukup apabila masyarakat kesulitan menjangkaunya. Karena itu, pembangunan pendidikan perlu didukung oleh infrastruktur yang memungkinkan masyarakat benar-benar memanfaatkan fasilitas tersebut.

Sebuah stasiun kereta mungkin tampak seperti proyek infrastruktur biasa. Namun, bagi desa yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses, fasilitas tersebut dapat membawa dampak yang jauh lebih luas.

6. Pendidikan, Kesehatan, dan Pemberdayaan Ekonomi dalam Satu Gerakan

Keberhasilan gerakan Salah Atiyah tidak hanya terlihat dari pembangunan lembaga pendidikan dan stasiun kereta.

Ia juga ikut mendorong pembangunan fasilitas kesehatan, pengembangan industri pendukung peternakan unggas, pembentukan lembaga sosial, serta program pemberdayaan masyarakat.

Usaha seperti penetasan telur, produksi pakan, dan peternakan membantu menciptakan kegiatan ekonomi produktif. Sementara itu, program sosial diarahkan untuk membantu warga yang membutuhkan serta memperluas akses terhadap berbagai layanan dasar.

Pendekatan ini penting karena persoalan kemiskinan biasanya tidak berdiri sendiri. Keluarga yang kekurangan penghasilan mungkin juga menghadapi hambatan pendidikan, kesehatan, dan kesempatan kerja.

Oleh sebab itu, solusi yang berkelanjutan perlu menyentuh beberapa aspek sekaligus.

Pendidikan membantu meningkatkan pengetahuan. Kegiatan ekonomi membuka peluang penghasilan. Layanan kesehatan menjaga kualitas hidup. Adapun lembaga sosial membantu masyarakat yang belum mampu memenuhi kebutuhan dasarnya.

Melalui pendekatan tersebut, kisah Salah Atiyah menunjukkan bahwa sedekah dapat menjadi bagian dari strategi pemberdayaan masyarakat, bukan hanya respons terhadap kebutuhan sesaat.

7. Rahasia Pemikiran Salah Atiyah: Mengubah Sedekah Menjadi Gerakan Sosial

Apa yang membuat kisah Salah Atiyah begitu menarik?

Jawabannya bukan semata-mata besarnya dana yang dialokasikan untuk amal, melainkan cara ia memandang hubungan antara iman, usaha, dan tanggung jawab sosial.

Ada setidaknya empat pelajaran yang dapat dipetik dari perjuangannya.

Pertama, mulai dari kemampuan yang dimiliki.

Salah Atiyah tidak memulai gerakannya dengan menunggu memiliki kekayaan besar. Ia memulai dari usaha yang dapat dijalankan bersama rekan-rekannya.

Kedua, jadikan kepedulian sosial sebagai bagian dari perencanaan.

Komitmen berbagi tidak hanya muncul ketika ada sisa keuntungan. Mereka sejak awal menyepakati alokasi keuntungan untuk kepentingan sosial.

Ketiga, bantu masyarakat agar mampu berkembang.

Bantuan sosial memang dibutuhkan, tetapi pendidikan, kesehatan, kesempatan kerja, dan kegiatan ekonomi produktif dapat membantu masyarakat memperbaiki kehidupannya dalam jangka panjang.

Keempat, bangun sistem yang bisa diteruskan.

Sekolah, kampus, fasilitas kesehatan, stasiun, dan lembaga sosial memiliki potensi manfaat yang terus dirasakan masyarakat. Inilah salah satu perbedaan antara bantuan sesaat dan pembangunan yang berkelanjutan.

Keempat pelajaran tersebut relevan bagi pengusaha, lembaga pendidikan Islam, yayasan sosial, pesantren, maupun komunitas yang ingin mengembangkan program pemberdayaan masyarakat.

8. Wafatnya Salah Atiyah dan Warisan Kebaikannya

Salah Atiyah wafat pada 11 Januari 2016. Namun, gagasan yang ia perjuangkan terus dikenang melalui perkembangan Tafahna Al-Ashraf dan berbagai fasilitas yang dibangun untuk masyarakat.

Ia dikenal sebagai sosok yang menghubungkan kegiatan usaha dengan kepedulian sosial. Perjalanannya juga memperlihatkan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai melalui proyek besar yang dibiayai pihak luar.

Dalam konteks tertentu, masyarakat dapat menghimpun kemampuan yang mereka miliki, membangun usaha produktif, menyisihkan keuntungan, dan menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan bersama.

Warisan Salah Atiyah bukan hanya bangunan fisik. Warisan terpentingnya adalah cara berpikir bahwa keberhasilan seseorang seharusnya turut membuka kesempatan bagi orang lain.

Kekayaan dapat habis ketika hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Sebaliknya, ketika sebagian hasilnya digunakan untuk membangun pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat, manfaatnya dapat meluas jauh melampaui pemilik kekayaan tersebut.

9. Pelajaran bagi Pesantren dan Lembaga Pendidikan Islam

Kisah Salah Atiyah sangat relevan bagi pengelola pesantren dan lembaga pendidikan Islam yang ingin membangun kemandirian ekonomi sekaligus memperluas manfaat sosial.

Pesantren, misalnya, dapat mengembangkan unit usaha yang dikelola secara profesional. Sebagian keuntungan kemudian dialokasikan untuk mendukung pendidikan santri, pemeliharaan fasilitas, bantuan bagi keluarga yang membutuhkan, atau pengembangan program sosial.

Namun, semangat berbagi tetap perlu disertai tata kelola yang baik. Pengelola harus memisahkan pencatatan modal, omzet, keuntungan, biaya operasional, dan dana sosial agar setiap alokasi dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan demikian, kepedulian sosial tidak mengganggu keberlangsungan usaha. Sebaliknya, usaha yang sehat dapat menjadi sumber pendanaan bagi program kebaikan yang berkelanjutan.

Pada saat yang sama, lembaga pendidikan perlu menjaga tujuan utamanya. Pendidikan Al-Qur’an dan ilmu agama tidak semestinya hanya dipandang sebagai sarana untuk meraih status, karier, atau keuntungan duniawi. Nilai-nilai Al-Qur’an seharusnya membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan bermanfaat bagi sesama.

Dalam kerangka itulah, kisah Salah Atiyah dapat menjadi inspirasi: mengembangkan usaha bukan semata-mata untuk memperbesar kekayaan, melainkan juga untuk memperluas manfaat.

Penutup: Ketika Keuntungan Menjadi Jalan Pengabdian

Biografi Salah Atiyah dari Mesir memberikan pelajaran bahwa perubahan besar bisa berawal dari keputusan sederhana.

Ia bersama rekan-rekannya memulai usaha peternakan unggas, menyisihkan sebagian keuntungan untuk amal, lalu mengembangkan gerakan yang ikut mendukung pendidikan, kesehatan, transportasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Kisah “saham Allah” yang bermula dari 10% dan kemudian meningkat hingga 100% mengingatkan kita bahwa kepedulian sosial dapat direncanakan, dikelola, dan diperluas seiring perkembangan usaha.

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan hanya seberapa besar keuntungan yang berhasil kita kumpulkan, melainkan juga seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan orang lain dari keuntungan tersebut.

Sebab, usaha yang baik bukan sekadar usaha yang menghasilkan uang. Usaha yang baik juga dapat menjadi jalan untuk membuka akses pendidikan, mengurangi kesulitan hidup, menguatkan masyarakat, dan meninggalkan warisan kebaikan bagi generasi berikutnya.

Semoga kisah Salah Atiyah menginspirasi kita untuk tidak sekadar mencari rezeki, tetapi juga memikirkan bagaimana rezeki itu dapat menjadi jalan pengabdian kepada Allah SWT dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi sesama.


Referensi

  1. Khotwa Center for Documentation and Studies, Pengalaman Insinyur Salah Atiyah — Baca sumber.
  2. Al Jazeera, Salah Atiyah: Orang Mesir yang Memerangi Kemiskinan dengan Memberdayakan Orang Miskin — Baca sumber.
  3. Al-Ahram, Sekolah, Rumah Sakit, Universitas, dan Stasiun Kereta di Tafahna Al-Ashraf melalui Upaya Masyarakat — Baca sumber.

*****

Baca juga artikel lainnya :

– https://rijalulquran.or.id/adab-guru-dan-murid-dalam-islam-jangan-jadikan-murid-sebagai-tempat-memenuhi-kepentingan-pribadi/ 

– https://rijalulquran.or.id/menjadi-mulia-bersama-al-quran-wahai-ayah-bunda-sudah-siapkah-kita/

© Copyright 2024, All Rights Reserved