Habis Gelap Terbitlah Terang: Jejak Literasi Al-Baqarah dalam Transformasi pemikiran Kartini

kartini_habis_gelap_terbitlah_terang

 

Banyak orang mengenal Raden Ajeng Kartini melalui surat-suratnya kepada sahabat di Eropa. Namun, narasi sejarah arus utama sering kali melewatkan satu kepingan teka-teki paling krusial: Dari mana asal-usul istilah “Habis Gelap Terbitlah Terang”? Selama ini, kita menganggapnya sebagai sekadar metafora puitis. Padahal, jika kita menelusuri lebih dalam lewat perspektif Islam, kalimat tersebut merupakan resonansi spiritual dari sebuah ayat di dalam Al-Qur’an.

Pertemuan Tak Terduga di Demak

Transformasi pemikiran Kartini mengalami titik balik saat ia bertemu dengan Kiai Sholeh Darat, seorang ulama besar dari Semarang. Pertemuan ini terjadi dalam sebuah pengajian di rumah bupati Demak. Saat itu, Kiai Sholeh Darat sedang memberikan tafsir surat Al-Fatihah. Kartini, yang selama ini gelisah karena hanya mampu membaca Al-Qur’an tanpa memahami maknanya, merasa tersentak.
Kartini kemudian mendorong sang Kiai untuk menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa agar kaum awam bisa menyerap maknanya. Inisiatif ini melahirkan kitab Faidhur-Rahman, tafsir Al-Qur’an pertama dalam bahasa Jawa. Melalui literasi inilah, Kartini mulai menyerap nilai-nilai keadilan dan martabat manusia yang sesungguhnya.

Akar Al-Baqarah dalam Diksi Kartini

Diksi ikonik “Habis Gelap Terbitlah Terang” atau dalam bahasa Belanda Door Duisternis tot Licht sebenarnya merupakan terjemahan harfiah dari konsep Al-Qur’an:
Frasa ini muncul beberapa kali dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam Surat Al-Baqarah ayat 257. Kalimat aktif ini menggambarkan perpindahan kondisi dari kegelapan (kebodohan dan penindasan) menuju cahaya (ilmu pengetahuan dan iman).

Kartini menggunakan metafora ini bukan tanpa alasan. Ia menyadari bahwa pencerahan bagi perempuan Jawa tidak akan datang hanya dari budaya Barat yang ia pelajari lewat korespondensi, melainkan dari kedalaman spiritualitas yang ia pahami maknanya. Oleh karena itu, ia mulai memandang emansipasi bukan sebagai pemberontakan terhadap tradisi semata, melainkan sebagai upaya mengangkat derajat manusia sesuai tuntunan Tuhan.

Mengganti Budaya Pingit dengan Ilmu

Setelah memahami makna ayat-ayat Tuhan, Kartini mulai mengubah pola pikirnya secara radikal. Ia tidak lagi melihat agama sebagai beban aturan yang mengekang, melainkan sebagai pembebas. Kalimat aktif Kartini dalam surat-suratnya mulai menunjukkan perlawanan terhadap feodalisme yang menyimpang. Ia mengkritik praktik-praktik adat yang membungkus penindasan perempuan dengan label agama, padahal Islam sendiri sangat menjunjung tinggi hak belajar bagi perempuan.

Selain itu, literasi Islam ini memberinya amunisi untuk berdiskusi dengan kaum intelektual Belanda. Ia ingin membuktikan bahwa pribumi memiliki landasan moral yang kuat untuk maju. Kartini menekankan bahwa pendidikan bagi perempuan adalah kunci utama untuk memperbaiki moral suatu bangsa. Seorang ibu yang cerdas akan melahirkan generasi yang kuat, sebuah prinsip yang sangat selaras dengan ajaran al-ummu madrasatul ula (ibu adalah sekolah pertama).

Warisan yang Tersembunyi

Sayangnya, sejarah kolonial cenderung menonjolkan sisi “Eropasentris” dari Kartini. Sejarawan masa lalu lebih senang menceritakan kegemaran Kartini membaca majalah De Hollandsche Lelie daripada menceritakan ketekunannya mempelajari tafsir Kiai Sholeh Darat. Padahal, hubungan guru dan murid ini adalah fondasi penting yang membentuk karakter religius Kartini di akhir hayatnya.

Hingga saat ini, jejak literasi Al-Baqarah tersebut tetap abadi dalam judul bukunya. Kita harus melihat Kartini tidak hanya sebagai pejuang emansipasi wanita, tetapi juga sebagai intelektual Muslimah yang berusaha meruntuhkan tembok kegelapan lewat cahaya ilmu.

Kesimpulan

Memperingati hari Kartini bukan sekadar memakai kebaya atau merayakan seremoni tahunan. Kita harus menghidupkan kembali semangat literasi yang ia rintis. Memahami sejarah Kartini dari perspektif Islam membuka mata kita bahwa perjuangan kesetaraan yang ia usung memiliki akar spiritual yang sangat dalam. Mari kita teruskan semangat “Habis Gelap Terbitlah Terang” dalam konteks modern: terus belajar, terus memberi pencerahan, dan jangan pernah berhenti mencari cahaya di tengah kegelapan informasi.

***

baca juga artikel lainnya

https://rijalulquran.or.id/7-tips-jitu-khatam-al-quran-30-hari-panduan-praktis-anti-gagal/

Lorem Ipsum

About Author:

Arif Muhibullah

STAY CONNECTED:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


© Copyright 2024, All Rights Reserved